Pontianak Menuju Pembangunan Vertikal

Kebutuhan akan lahan pada daerah perkotaan, khususnya kota Pontianak, dewasa ini semakin meningkat. Kondisi tersebut disebabkan meningkatnya jumlah penduduk serta kegiatan/ aktivitas yang berlangsung pada kota tersebut seperti perdagangan, industri, pendidikan, dan sebagainya. Akibatnya, lahan terbuka hijau semakin berkurang dan lahan pemukiman semakin luas namun cenderung tidak terkendali. Dampak akhir yang akan terjadi adalah hilangnya lingkungan sehat bagi masyarakat kota. Kita perlu belajar dari pengalaman yang dialami Jakarta. Maukah kita Pontianak seperti itu?

Terdapat beberapa jalan keluar untuk  menanggulangi masalah ini antara lain dengan program Keluarga Berencana, penegasan dan penyeleksian ketat izin IMB, perluasan wilayah administratif kota, serta pelaksanaan pembangunan vertikal. Semua jalan keluar tersebut memiliki kendala dan keuntungan yang berbeda-beda dalam setiap pelaksanaannya. Dalam hal ini, penulis memaparkan salah satu jalan keluar dalam menekan perluasan lahan pemukiman dan meningkatkan lahan hijau  yaitu dengan konsep pembangunan vertikal.

Kota Pontianak memiliki luas lahan sebesar 107,82 km² dan jumlah penduduk sebanyak 543.996 jiwa (tahun 2008), jumlah ini belum termasuk dengan pendatang/ imigran yang tidak terdata. Berdasarkan data publikasi Pemda kota Pontianak di pontianak.go.id , tingkat kepadatan penduduk kota Pontianak tahun 2008 sekitar 5.045 jiwa/ km2. Jika dibandingkan dengan tahun 2004 dengan kepadatan penduduk sekitar 4.440 jiwa/ km2 , maka terdapat peningkatan kepadatan penduduk sebesar 20%. Kondisi ini jika tidak dikendalikan,  maka ketersediaan lahan terbuka hijau di kota Pontianak (mungkin pula di ibukota-ibukota kabupaten) akan berkurang dan tidak mampu mendukung lingkungan yang sehat. Idealnya, sebuah kota memiliki lahan terbuka hijau seluas 30% dari total luas kota tersebut. Dengan kata lain, kota Pontianak memerlukan lahan terbuka hijau seluas 32,346 km2 dan lahan yang dapat dikembangkan/ dibangun seluas 75,474 km2. Apakah kondisi ini sudah tercapai?

Berdasarkan Pedoman Umum Rumah Sederhana Sehat, idealnya sebuah rumah dengan 4 orang penghuni memiliki luas lahan minimal 60 m2, maka dengan jumlah penduduk sebanyak 543.996 jiwa (tahun 2008), maka diperlukan lahan untuk pemukiman sebesar 8,16 km2. Jumlah ini baru sebatas untuk perumahan, belum termasuk perkantoran, kawasan industri, perdagangan, jasa dan lahan untuk transportasi kota.
Konsep pembangunan vertikal seharusnya dapat diterapkan dalam menanggulangi dampak laju pembangunan kota. Salah satu contohnya dengan pembangunan rumah susun ataupun apartemen, sehingga dengan lahan yang luasnya terbatas dapat menampung penduduk lebih banyak dari kondisi seharusnya, namun tetap layak dan sehat untuk ditempati. Adapun, dari segi mitigasi bencana, pembangunan vertikal dapat meminimalisir dampak kerugian yang disebabkan oleh bencana banjir yang sering terjadi di kota Pontianak.

Penerapan konsep ini tidaklah mudah. Terdapat beberapa faktor pembatas/ penghambat yang menjadi kendala dalam penerapan pambangunan vertikal di kota Pontianak. Pertama, Pola pikir masyarakat yang kurang faham akan masalah keterbatasan lahan. Kedua, pemahaman masyarakat bahwa rumah susun terkesan kumuh dan tidak mencerminkan kemapanan suatu keluarga. Ketiga, pihak swasta (khususnya developer perumahan) cenderung mengikuti tuntutan pasar yaitu membangun pemukiman berpola horizontal, sehingga kurang berani mengambil resiko untuk membangun dengan pola vertical. Keempat, kondisi tanah kota Pontianak yang memerlukan penanganan lebih lanjut untuk melaksanakan pembangunan vertikal, sehingga memerlukan modal yang lebih banyak termasuk SDM yang ahli di bidang struktur dan konstruksi.

Dengan mengetahui beberapa faktor penghambat/ pembatas dalam penerapan pembangunan vertikal, maka langkah-langkah untuk menanggulangi beberapa faktor tersebut otomatis dapat pula disusun. Tentu saja, usaha ini memerlukan kesepakatan, koordinasi, dan kerjasama yang baik antara pemerintah, swasta, dan masyarakat. Tentu kita tidak menginginkan keuntungan hanya berada disatu pihak dan kerugian di pihak lainnya. Keuntungan tersebut harus diperoleh semua pihak yang terlibat, baik langsung maupun tidak langsung.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan dalam merealisasikan pembangunan vertikal, antara lain: 1). Pemda menyusun Peraturan Daerah yang mengatur tentang Arahan Pembangunan Vertikal sehingga dapat membatasi pembangunan perumahan baru yang bersifat horisontal dan memakan banyak lahan. Adapun, Pemerintah sebagai pemegang kebijakan hendaknya dapat memberikan keringanan pajak ataupun kemudahan birokrasi kepada pihak swasta yang menerapkan konsep ini (pembangunan vertikal); 2). Melaksanakan sosialisasi tentang arti penting pembangunan vertikal dengan tujuan untuk merubah pola pikir masyarakat; 3). Melaksanakan tindakan nyata pembangunan (usaha rintisan) berupa pembangunan rumah susun untuk aparatur Pemerintah ataupun bagi masyarakat kurang mampu sebagai percontohan. Tentu saja, jika pemukiman yang dibangun memiliki lingkungan yang lebih baik, secara tidak langsung masyarakat akan lebih tertarik; 4). Memberdayakan Institusi Pendidikan dan SDM yang ada. Kalimantan Barat, khususnya kota Pontianak, memiliki Institusi Pendidikan dan SDM yang berkecimpung di bidang Struktur dan Konstruksi. Tentu saja hal ini dapat dimanfaatkan dalam merancang dan melaksanakan pembangunan vertikal. Adapun, institusi dan SDM tersebut hendaknya dapat pula dilibatkan dalam usaha-usaha Penelitian dan Pengembangan terhadap pembangunan vertikal kota.

Jika pembangunan vertikal ini dapat dikembangkan, secara tidak langsung kota Pontianak akan memiliki area hijau yang lebih luas yang akhirnya akan mendukung terciptanya lingkungan sehat yang diinginkan kita semua. Pontianak Siap Menuju Pembangunan Vertikal.

 

nb:
diterbitkan pada Pontianak Post pada hari selasa 28 Juli 2009
http://www.pontianakpost.com/?mib=berita.detail&id=21856

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s